self love
Ini sebenarnya tugas cerpen dulu...
Lagu Vow dari Coldiac memenuhi seluruh ruangan di coffee shop, hanya sedikit orang sore itu yang datang. Belakangan ini aku sering datang ke coffee shop itu, karena satu alasan, yaitu perempuan yang aku tak tau siapa namanya. Perempuan tersebut biasanya datang setiap hari ke coffee shop itu pukul 16.15, tapi hanya hari ini dia telat, belum terlihat sama sekali batang hidungnya.
Seminggu sudah, setiap hari aku mengunjungi coffee shop itu, dan perempuan tersebut sama sekali belum pernah datang kembali, pikiranku di penuhi oleh banyak tanda tanya. Keesokan harinya aku kembali datang ke coffe shop itu, aku sengaja datang telat, dan tak berharap ada dia disana, tetapi saat aku datang, dia sedang beranjak dari tempatnya lalu keluar. Aku heran.
Hari-hariku pun berjalan biasa saja tak ada yang menarik, merasa aneh dengan apa aku lakukan karena ingin sekali berkenalan dengan perempuan tersebut. Hari itu aku mengunjungi sebuah taman yang tak begitu ramai, sengaja, karena diriku butuh ketenangan untuk membaca buku.
Tengah asik sedang membaca buku, tiba-tiba perempuan datang dan berbicara " Boleh ikut duduk? " lalu akupun membalas " Boleh silahkan " tanpa melihat siapa perempuan tersebut. Lalu dia bertanya,
“Sedang apa?”
“Sedang menulis lirik.” dengan nada yang datar
“Bikin lirik tentang apa?”
“Self love.” Kataku.
Dia memberikan earphonenya sebelah sambil bilang " Kamu suka lagu ini? " ternyata yang sedang di putar lagu Vow dari Coldiac, lalu akupun langsung teringat tentang perempuan yang ada coffee shop itu, saat aku menoleh kearahnya, ternyata sejak tadi aku sedang berbincang dengan perempuan tersebut. Lalu aku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan " Bara ", diapun menjabat tanganku sambil memperkenalkan juga " Sasa ".
Sore itu aku berbincang-bincang dengan dia, sampai tak terasa malam telah menjemput. Aku dan dia telah bertukar no telepon karena untuk sewaktu-waktu bila butuh. Hari itu aku merasa senang sekali karena berhasil berkenalan dengannya, Sasa. Dan malam itu aku memutuskan untuk menghubungi dia, untuk menagih playlist yang tadi dia tawarkan. Akupun mendengarkan playlistnya, seleranya kurang lebih sama dengan apa yang aku dengarkan juga.
Aku dengannya memiliki hubungan yang baik, Sasa adalah Mahasiswa semester 4, di Universitas Gadjah Mada, jurusan Desain Komunikasi Visual, sama denganku, hanya bedanya aku jurusan Psikologi. Aku dengannya sering mengerjakan tugas bersama di coffe shop yang biasa dikunjungi. Sambil membahas lagu yang akhir-akhir ini selalu di dengarkan, sambil membahas hal-hal yang tak penting sama sekali.
Setelah cukup lama mengenal Sasa, kami hampir menjalani apapun bersama-sama, dari mulai berangkat ke kampus sampai pulang, kami selalu bersama. Tempat tinggalku dengannya cukup jauh, cukup jarak saja yang jauh, jangan sampai perasaan ini ikut jauh. Karena setelah cukup lama dengannya, entah perasaan apa yang timbul dari diri ini, tapi jujur perasaan ini cukup mengganggu.
“Bikin lirik tentang apalagi ya sa?” tanyaku sambil memandang langit-langit
“Gimana kalo tentang karantina? Kan kita pernah ngalamin karantina yang cukup lama.”
“Yaudah tentang karantina aja, bantuin ya sa”
“Oke. Mau bikin kapan?”
“Nanti aja.”
Sudah hampir seharian penuh aku bersamanya, seru sekali rasanya bisa terus berhubungan baik dengannya, tapi aku takut bila aku ingin punya hubungan lebih dengannya, karena rasanya perasaan ini makin hari makin tumbuh, aku tidak ingin hubungan ini rusak hanya karena perasaan yang tak jelas ini. Setelah seharian penuh dengannya, hari itu berakhir dengan seharusnya.
Sekian lama aku mengenalnya, aku tidak pernah bertanya sekalipun apakah dia memiliki hubungan status dengan orang lain, bukannya tak ingin tau, tapi kata orang lebih baik tak tau dari pada tau malah menciptakan rasa sakit, jadi sampai saat ini aku belum berani bertanya tentang hal tersebut. Entah apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini.
Akhirnya akupun memutuskan untuk mengumpulkan niat untuk memberanikan diri menyatakan perasaan ini dengan tidak peduli apapun konsekuensinya nanti, karena lebih baik di nyatakan agar perasaan ini lega dibandingkan di pendam terus yang membuat aku semakin merasa terbebani. Rasa ini tak perlu berbalas, aku hanya ingin menyatakan ini dengan tuntas.
Sambil mengumpulkan keberanian, aku menjalani hari seperti biasanya bersama Sasa, berharap dia tidak merasakan hal yang aneh dalam diriku. Aku merasa semakin hari aku menjadi semakin dekat dengannya, banyak yang mengira kami memiliki hubungan cukup serius. Untung Sasa tak risih dengan apa yang orang bicarakan, atau mungkin dia pun berharap memiliki hubungan yang serius denganku? Hahaha itu tak mungkin terjadi sepertinya.
Tak seperti yang dibayangkan, ternyata mengumpulkan keberanian membutuhkan waktu yang cukup lama. Aku sebenernya masih ragu apa yang aku lakukan ini benar atau salah, aku hanya ingin nyaman ini tetap sebagai teman, karena aku tau menyatakan perasaan biasanya hanya berujung pada perasingan, tetapi jika tak dinyatakan perasaan ini mungkin akan menjadi rasa sesal di kemudian hari karena tak dinyatakan.
Karena aku tak ingin menceritakan kejadian memalukan saat aku menyatakan perasaan pada Sasa, aku hanya ingin memberi tau bahwa akhirnya perasaan yang sempat diambang batas kini telah berbalas. Percayalah saat kejadian itu aku menjadi orang yang paling bahagia di dunia. Merasa lega karena semua beban telah di keluarkan, akhirnya aku dengannya menjadi sepasang salah yang menolak yaudah.
Hampir satu tahun hubungan ini berjalan dengannya, awal yang cukup baik sebelum masuk pada bulan bulan berikutnya yang penuh dengan mimpi buruk, bukan salah aku ataupun dia, tapi kesalahan bersama. Dua manusia yang sama-sama keras kepala, ini tidak seperti yang aku harapkan, karena sebelum aku menjalani hubungan dengannya, dia tidak pernah bersikap seperti ini, dan akupun sadar aku juga sebelumnya tidak pernah bersikap seperti ini.
Memang seharusnya aku menyimpan perasaan itu sebelumnya, biarkan rasa itu pupus lalu terhapus. Tetapi tiap hal yang di pilih pasti punya konsekuensinya, dan mau tidak mau kita harus menerima sekaligus menjalani kosekuensinya.
Setelah sekian lama bersama dengannya, menjadi rumah untuk saling bertukar keluh kesah, menjadi orang yang selalu percaya. Tapi pada akhirnya hubungan ini berujung pada perasingan. Ekspektasiku sendiri yang akhirnya membuat aku jatuh. Memang tak ada yang benar selain percaya pada diri sendiri, bahkan semesta pun kadang tak dapat di percaya.
Dari kejadian ini aku belajar bahwa tak ada yang dapat di percaya selain diri sendiri, tak ada rumah yang lebih indah selain diri sendiri, mencintai penuh diriku saja aku belum sanggup apalagi mencintai orang yang sama sekapli tidak kukenal asalnya.
Komentar
Posting Komentar